![]() |
"Orang-orang kadang bangga bisa bicara di depan dan suaranya didengar oleh 100 atau 500 orang, tapi mereka lupa, dengan MENULIS seseorang bisa bicara dan dipahami oleh ribuan bahkan jutaan orang." ~Mahbub Junaidi~
••••••
Kalimat di atas menjadi salah satu penyemangat kenapa saya harus rajin nulis. Tapi tidak asal nulis yang hanya membuat beranda orang lain terganggu dengan tulisan kita.
Sebagian dari kita tentu sudah membaca tulisan J.K. Rowling. Siapa dia? Iya, dialah penulis novel serial Harry Potter yang sangat fenomenal itu. Hampir semua usia suka. Dengn membaca tulisannya, kita seperti terlarut ke dalam dunia fantasi J.K. Rowling
Saat ini penulis Harry Potter itu tentu telah memanen hasil tulisannya. Lebih dari itu tentu dia sangat senang karena tulisannya dibaca orang seluruh dunia. Sayalah salah satu pembacanya.
Di Indonesia, banyak sebenarnya penulis-penulis handal. Saya ambil contoh, Ustadz Yusuf Mansur. Terlepas dari berita miring tentang UYM, beliau termasuk salah satu ustadz yang melek teknologi. Dan, rajin nulis.
Saya mengikuti beberapa tulisannya di Facebook, Instgram dan Twitter. Gaya tulisannya seperti bahasa lisan. Ringan. Jika membaca tulisannya, seakan-akan beliau berbicara langsung kepada saya. Sekali posting tulisan, responnya pasti ribuan. Dengan redaksi sederhana dan bahasa apa adanya, orang tidak merasa bosan membacanya.
Masih banyak tulisan-tulisan di medsos yang selalu rutin saya baca. Seperti tulisan Kyai Ahsin Sakho, Gus Mus, Gus Afifuddin Dimyati, Gus M Ihsan Ufiq, Gus Helmi Nawali, Gus M Idrus Romli dan beberapa tulisan lain yang tidak bisa disebutkan semua. Yah, sesekali kalau sedang bosan saya akan membaca berita olahraga.
Kalau tulisan-tulisan tentang kebencian, permusuhan, adu domba dan tulisan lain yang jelek-jelek itu, biasanya saya abaikan. Khawatir saya juga terbawa suasana. Intinya, menurut saya tulisan yang baik adalah tulisan yang membuat kita tidak sabar. Tidak sabar untuk segera action. Action ke arah yang baik.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar