al-Qur’an adalah kitab Allah yang sangat istimewa. Jika didalami dari sisi manapun tidak akan pernah selesai pembahasan mengenai al-Qur’an. Termasuk dari sisi cara membacanya yang beragam. Tetapi dari beberapa cara baca al-Qur’an yang bermacam-macam itu tidak merubah atau bahkan mengurangi kandungan al-Qur’an. Demikian salah satu mukjizat al-Qur’an.
Ketika sebagian orang mempertanyakan bacaan al-Qur’an yang aneh menurut telinganya, maka ada beberapa hal yang dapat dipahami terlebih dahulu sebelum mengatakan bahwa bacaan itu benar-benar aneh. Orang akan menyeut aneh sesuatu yang jarang atau bahkan belum pernah didengar sebelumya. Padahal bisa jadi itu bukan aneh tapi karena pengetahuannya saja yang belum sampai kesitu.
Saya pernah shalat berjama’ah di masjid raden pattah universitas brawijaya. Imamnya adalah mahasiswa pascasarjana dari libya. Ketika imam membaca surat yasin ada beberapa ma’mum yang secara spontan mengoreksi beberapa kalimat surat yasin yang dibaca imam. seperti فَهِيَ pada ayat 8. Imam membaca huruf ha’ dengan disukun. Beberapa ma’mum langsung menyauti dengan membaca kalimat tersebut dengan mengkasrah huruf ha’. Kemudian سَدًّا pada ayat 9. Imam membaca huruf sin dengan didhommah. Langsung saja ma’mum menyauti dengan membaca kalimat tadi tapi dengan memfathah sin seperti dalam mushaf yang sering kita gunakan. Dan masih ada beberapa kalimat yang lain yang tidak mungkin disebut satu persatu.
Ketika sebagian orang mempertanyakan bacaan al-Qur’an yang aneh menurut telinganya, maka ada beberapa hal yang dapat dipahami terlebih dahulu sebelum mengatakan bahwa bacaan itu benar-benar aneh. Orang akan menyeut aneh sesuatu yang jarang atau bahkan belum pernah didengar sebelumya. Padahal bisa jadi itu bukan aneh tapi karena pengetahuannya saja yang belum sampai kesitu.
Saya pernah shalat berjama’ah di masjid raden pattah universitas brawijaya. Imamnya adalah mahasiswa pascasarjana dari libya. Ketika imam membaca surat yasin ada beberapa ma’mum yang secara spontan mengoreksi beberapa kalimat surat yasin yang dibaca imam. seperti فَهِيَ pada ayat 8. Imam membaca huruf ha’ dengan disukun. Beberapa ma’mum langsung menyauti dengan membaca kalimat tersebut dengan mengkasrah huruf ha’. Kemudian سَدًّا pada ayat 9. Imam membaca huruf sin dengan didhommah. Langsung saja ma’mum menyauti dengan membaca kalimat tadi tapi dengan memfathah sin seperti dalam mushaf yang sering kita gunakan. Dan masih ada beberapa kalimat yang lain yang tidak mungkin disebut satu persatu.
Dari contoh tersebut sebaiknya sebagai ma’mum memikirkan dulu apakah bacaan imam yang salah atau ma’mum yang belum pernah mendengar bacaan imam. Jika jawabannya yang pertama, maka sudah jelas solusinya bahwa imam harus meningkatkan lagi kualitas talaqqi bacaan al-Qur’annya. Itulah perlunya kenapa seorang imam diutamakan yang lebih banyak hafalan al-Qur’annya. Salah satunya untuk menghindari kesalahan dalam membaca al-Qur’an. Tetapi jika jawabannya yang kedua yaitu ma’mum belum pernah mendengar bacaan imam, maka sebaiknya imam harus menjelaskan dulu bacaan al-Qur’an siapa yang akan dibaca imam ketika shalat. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang menganggap bacaan imam keliru. Karena bacaan al-Qur’an yang aneh menurut ma’mum belum tentu aneh menurut imam.
Sedikit menyinggung tentang dua kalimat aneh yang dibaca imam tersebut. Bahwa bacaan yang dibaca imam itu adalah bacaan al-Qur’an menurut Riwayat Imam Qalun dari Qira’ah Imam Nafi’. Di Libya, Negara tempat si Imam lahir mayoritas menggunakan bacaan al-Qur’an Riwayat Imam Qalun. Sementara di Indonesia mayoritas bacaan al-Qur’an yang diajarkan adalah bacaan al-Qur’an menurut Riwayat Imam Hafsh dari Qira’ah Imam ‘Ashim. Oleh karena perbedaan riwayat itulah maka dua kalimat tersebut berbeda cara membacanya. Selain perbedaan yang lain dalam surat yang sama. Itulah yang disebut dengan Ilmu Qira’at.
Selain dua nama Imam Qira’at di atas, masih ada lagi lima nama imam lainnya yang masing-masing punya dua periwayat juga mempunyai aturan cara membaca masing-masing dan dalam Ilmu Qira’at disebut dengan Qira’ah Sab’ah. Semua imam dalam Qira’ah Sab’ah mempunyai silsilah keilmuan al-Qur’an yang sambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi al-Qur’an yang kita baca dengan baik saat ini sama dengan al-Qur’an yang diterima oleh Nabi pada saat beliau menerimanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. semoga kita semua dapat istiqamah mencintai al-Qur’an dan mendapatkan balasan cinta dari al-Qur’an.
Selain dua nama Imam Qira’at di atas, masih ada lagi lima nama imam lainnya yang masing-masing punya dua periwayat juga mempunyai aturan cara membaca masing-masing dan dalam Ilmu Qira’at disebut dengan Qira’ah Sab’ah. Semua imam dalam Qira’ah Sab’ah mempunyai silsilah keilmuan al-Qur’an yang sambung sampai kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi al-Qur’an yang kita baca dengan baik saat ini sama dengan al-Qur’an yang diterima oleh Nabi pada saat beliau menerimanya dari Allah SWT melalui Malaikat Jibril. semoga kita semua dapat istiqamah mencintai al-Qur’an dan mendapatkan balasan cinta dari al-Qur’an.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar